Merayakan 100 Tahun Penyair Terkemuka Chairil Anwar

Bung, Ayo Bung Merayakan Seabad Si Binatang Jalang

Potret yang ikonik (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)
Potret yang ikonik (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Tulisan-1

JAKARTA, Kalderakita.com: Seminggu lagi, tepatnya pada 26 Juli 2022, penyair terbesar Indonesia Chairil Anwar akan merayakan ulang tahunnya yang ke-100 andai saja ia masih hidup. Tapi, umur sastrawan yang lahir dan besar di Medan ini pendek saja: 27 tahun kurang. Ahasil, kitab perdana kumpulan puisinya (Deru Tjampur Debu) pun tak sempat ia saksikan terbit karena di tahun 1949 itu juga ia menghembuskan nafas pamungkas.

Orangnya boleh saja mati tapi karyanya tidak. Itu yang terjadi pada Chairil Anwar. Sampai sekarang kedudukannya sebagai penyair terakbar Indonesia belum tergantikan, sebagaimana sastrawan Angkatan ’45 lainnya, Pramoedya Ananta Toer,  di lapangan prosa.  Karya mereka memang telah mengabadi.

Ah, kalau saja bangsa kita sudah berkeadaban tinggi! Tentu seabad Chairil Anwar akan kita rayakan dengan sangat semarak. Sebulan sebelumnya setidaknya halo-halonya telah menggaung lewat pelbagai saluran termasuk media massa dan media sosial. Dan, puspa kegiatan pun—pementasan, pameran, seminar, diskusi, lomba, penerbitan buku, pemutaran film, dan yang lain—berlangsung di banyak kota sekaligus.

Ya, sebagaimana dulu orang di belahan bumi lain memperingat 100 tahun (dan kelipatannya) Johann Wolfgang von Goethe, Friedrich Schiller, Wolfgang Amadeus Mozart, Ludwig van Beethoven, Franz Shubert, William Shakespeare, Rembrandt van Rijn, Vincent van Gogh, James Joyce, Franz Kafka, Marcel Proust, Fyodor Dostoevsky, Henrik Ibsen, Yukio Mishima, Pablo Picasso, Federico Garcia Lorca,  dan yang lain.  Sungguh serba meriah.

Sumbangan insan-insan kreatif ini yang maha besar dalam  pengayaan peradaban memang mesti disyukuri dan dihormati oleh siapa saja yang menghargai dan mencintai karya adiluhung sesama manusia. Negara yang mewargai mereka pun perlu memperlihatkan apresiasi. Di banyak negeri waktu itu, pemerintah setempatlah yang menjadi si empunya hajat yang paling bersemangat. Lewat pusat kebudayaan, di luar negeri pun mereka giat berkampanye untuk menggarisbawahi kebesaran sang manusia kreatif  yang dihasilkan negerinya. 

Penyair pejuang (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Adapun di negeri kita, semangat merayakan yang demikian masih saja kurang. Alih-alih milad-nya diperingati dengan gegap-gempita, karya-karya maestro seperti Affandi Koesoema, Sindudarmo Soedjojono, Hendra Gunawan, Ismail Marzuki, Cornel Simandjuntak, Bintang Sudibyo (Ibu Sud, nama aslinya: Saridjah Niung), Amir Hamzah, Sutan Takdir Alisjahbana,  Usmar Ismail, Bactriar Siagian, Asrul Sani, Sjumandjaja, Bagong Kussudiardjo, Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, Sitor Situmorang, Umar Kayam, Iwan Simatupang, I Nyoman Gunarsa, Srihadi Soedarsono, Abdul Djalil Pirous,  I Nyoman Nuarta, dan yang lain pun sangat kurang dikenalkan di dunia persekolahan kita. Apa yang mau diharap kemudian?

Padahal, seperti yang dilakukan dengan sangat baik oleh Korea Selatan dalam belasan tahun terakhir di dunia industri popular, pewacanaan itu maha penting. Oleh negeri gingseng, karya yang bukan gemilang sekalipun bisa diorbitkan sehingga mengemuka di seluruh dunia. Lihatlah band-band K-pop tertentu yang mengandalkan koreografi semata sementara suaranya pas-pasan sehingga harus direkayasa dengan teknologi.

Ah, karya-karya adiluhung dari para insan kreatif negeri sendiri memang sampai sekarang belum beroleh tempat di hati sebagian  besar rakyat kita yang kini total jenderal sudah mendekati 276 juta. Sistem pendidikan yang masih cenderung mengarah ke pembeoan,  belum ke penalaran dan olah batin, antara lain penyebab utamanya. Lulusan sekolah sekalipun akhirnya kebanyakan serupa robot yang mudah dikendalikan operator. Mudah terombang-ambing.

Bagaimana kita akan meresepsi dan mengapresiasi karya gemilang dari para insan kreatif? Alhasil, Indonesia tak kunjung menjadi negara yang merdeka, mandiri, dan berkepribadian seperti yang diharapkan para founding father and mother kita.

Karya kolaborasi (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Kembali ke peringatan 100 tahun Chairil Anwar. Meski hari-H tinggal seminggu lagi gaung acara ini masih sayup-sayup saja. Seperti iklan yang kubaca di Fb, memang akan ada peringatan nanti di Taman Ismail  Marzuki (TIM). Lantas, di Bali pun bakal ada perhelatan serupa. Kemungkinan di sejumlah kota lain bakal ada acara juga. Tapi yang terlibat sebatas komunitas-komunitas sastra belaka. Meminjam istilah menarik dari Pak Prabowo Subianto (Menteri Pertahan kita  sekarang) tiada gerakan yang terstruktur, sistematis, dan masif. Sayang memang, padahal momen ini maha penting.

“Bung, Ayo Bung…” Itulah jawaban Chairil Anwar saat ditanya S. Soedjojono tulisan apa sebaiknya yang diterakan pada lukisan Affandi di poster yang di hadapan mereka. Model lelaki yang memegang bendera merah putih dengan tangan yang sudah mematahkan rantai tiada lain dari pelukis Dullah. Kalimat tadi pun melengkapinya.

Dengan meminjam sebutan khas para penjaja seks di Pasar Senen, Jakarta, di masa Affandi—Soedojono, Chairil—Dullah  itu aku pun sekarang akan mengajak Anda sekalian:  Bung, ayo Bung merayakan seabad Si Binatang Jalang!

Diriku sendiri akan melakukannya dengan langgam sendiri. Konkritnya? Mulai hari ini menurunkan serial tulisan tentang penyair bohemian yang masih saja mempengaruhi para penulis puisi kita hingga sekarang.

Inilah artikel perdana. Yang lain menyusul. Selamat menikmati walau mungkin ada yang  tak sedap tanpa ngeri-ngeri.