Film `Ngeri-ngeri Sedap`

Dengan Jenaka Memotret Jagat Kekinian Manusia Batak Toba

Prosesi adat Batak (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)
Prosesi adat Batak (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Bagian-2

JAKARTA, Kalderakita.com: Film ‘Ngeri-ngeri Sedap’ diadaptasi dari novel Bene Dion Rajagukguk, sarjana teknik lulusan UGM yang kemudian menjadi komika. Skenario dan penyutradaraannya pun oleh sosok belia yang sama. Karya layar lebar ini menurutku kuat dalam banyak hal.  Tak hanya humor segar yang menyelinap di sana-sini pada sepanjang kisah yang menjadi  kelebihannya.

Potret kehidupan keseharian keluarga Batak (Toba) zaman now—sedang di persimpangan jalan antara ketradisionalan dan kekinian—tergambar di sini dengan baik dalam bentuk karikatural. Nyata bauran kebanalan dan kesakralannya.

Kesungguhan menjalani hidup, relaksasi yang perlu juga (‘marmitu’ salah satu bentuknya), ideologi marsingkola  [bersekolah] demi hamajuon [kemajuan], kesalehan yang terkadang mesti diperlihatkan dengan pencitraan, ritus adat yang tetap saja mewarna meski di bawah bayang-bayang kepudaran makna hakiki, pragmatisme yang merusak keelokan (contohnya: memasukkan daging yang di piring pesta ke dalam plastik untuk dibawa pulang; sebutannya: marpalas), dan kekianterasingan angkatan muda masa sekarang pada tradisi panjang leluhur yang semakin terancam luntur, antara lain mozaik yang mengemuka. Semua ditampilkan dengan halus laksana perca-perca yang mewujud jadi  sehelain kain.   Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh sutradara yang memang mengenal betul alam cerita yang digarapnya.

Bukit Holbung yang menawan, salah satu lokasi syuting film Ngeri-ngeri Sedap (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Penggambaran Pak Domu (Arswendy Beningswara Nasution) sebagai prototipe ayah-kolot orang Batak Toba apik dan menarik. Dia ditampilkan sebagai sosok yang selalu menjadikan isi pikirannya cermin nilai bagi anak-anaknya. Di luar itu salah dan karenanya ia tak mau tahu. Otoriter, kata lainnya. Setelah besar, anak-anak pun menghindari dia. Sarma, boru [putri] penurut saja yang tidak.

Selain mau menang sendiri, pola pikir dia transaksional. Merasa telah berpayah-payah menyekolahkan, ia kemudian menghendaki bakti anak-anak sebagai imbalan.   

Ya, namanya juga produk patriarki di negeri agraris. Lelaki Batak macam Pak Domu tentu masih ada di zaman sekarang. Tapi,  syukurlah:  jumlahnya sudah kian berkurang. Ciri utamanya, sebagai kepala keluarga mereka menjadikan diri otoritas yang tak terbantahkan. Ujarannya tiada lain dari sabda.

ANAK KEHIDUPAN

Penyair terkemuka Libanon Kahlil Gibran (1883-1931) menulis seperti ini [menurut terjemahanku dari bahasa Inggris] dalam kumpulan puisi berjudl ‘Sang Nabi’.  

Anak-anakmu bukan anak-anakmu.

Mereka putra-putri Kehidupan itu sendiri.  

Mereka datang melaluimu tapi bukan darimu,

Dan meski bersamamu mereka bukan milikmu.

 

Kau boleh memberi mereka cinta tapi bukan pikiran,

Sebab  mereka punya pikiran sendiri.

Kau boleh merumahi tubuh mereka tapi bukan jiwanya,

Sebab, jiwa mereka bersemayam di rumah esok yang takkan bisa kau kunjungi pun  dalam mimpi-mimpimu.

 

 Kau boleh berjuang menjadi mereka, tapi jangan berusaha membuat mereka sepertimu.

Sebab kehidupan tak mundur pula tak tinggal di kemarin.

 

Kau adalah busur dari mana anak-anakmu sebagai anak panah-hidup melesat.

Pemanah melihat tanda jarak tak terbatas, dan Dia menekukmu dengan kemampuanNya sehingga anak panahNya melesat dan jauh.

………’

Indah dan bermakna maha dalam syair Gibran ini. Namun, bagi para ayah sejenis Pak Domu  semua itu omong kosong belaka. Pinsip mereka sebaliknya. Anakku ya anakku! Aku yang lebih tahu apa yang paling baik untuk mereka. Pun, peran apa yang mesti mereka mainkan kelak.

Danau Toba nan eksotis (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Dalam pemaknaan orangtua macam Pak Domu, muara dari keberadaan anak-anak itu tiada lain dari pewujudan filosofi hamoraon [kekayaan], hagabeon [keberanakpinakan], dan hasangapon [keterhormatan].  Sebab itu, setelah dewasa para keturunan tersebut hendaklah menjadi Batak paripurna. Dalam arti:  makmur, berputra dan berputri serta bercucu, dan terhormat. Yang terakhir ini mewujud antara lain  karena telah menjalankan adat dengan baik.

Maka, janganlah menjadi tukang masak, komika, penghibur yang bisa tampil gila-gilaan di TV, atau pegiat LSM. Jadi wartawan pun jangan. Ini berlaku juga untuk anak-anak Pak Domu: Domu, Gabe, Sahat, dan Sarma. Selain tak menghasilkan duit, wibawanya bakal kurang. Lain cerita kalau berdinas di Telkomsel, Pertamina, Astra International, Schlumberger, dan yang lain. Atau menjadi akuntan partikulir, jaksa, hakim, pengacara, dan pejabat berpangkat tinggi.

Satu hal lagi yang tak kalah penting, menikahlah dengan sesama Batak (bukan dengan halak sileban)  yang seagama (Kristen). Dengan demikian, adat dalihan natolu akan tetap tegak.

Terkait adat, satu hal  perlu disebut ihwal orang-orang seperti Pak Domu. Mereka meminta banyak padahal sedikit saja memberi. Mereka mengingankan anak-anaknya menjadi Batak tulen setelah dewasa—tanda utamanya  adalah  menghayati nilai-nilai adat dalam kehidupan keseharian—padahal  sekian lama tak pernah menyemaikannya karena selalu asyik dengan diri sendiri. Saat masih bugar dulu, umpamanya, di arisan keluarga mereka larut bermain joker karo. Anak-anak yang dibawa serta menjadi kambing congek belaka. Disuruh di rumah saja padahal tak tahu harus melakukan apa. Sungguh egois, bukan?

Generasi kejepit sebenarnya orang seperti Pak Domu. Mereka dilahirkan dan dibesarkan di zaman sulit. Di alam patriarki itu lingkungan rumahnya jauh dari demokratis. Sekolah-sekolah yang mengajarkan nilai-nilai  demokrasi masih suatu  kemewahan yang sangat, kala itu. Kalaupun survive kemudian atau bahan ‘menjadi orang’ itu lebih karena perjuangan luar biasa dari diri sendiri.

Nanti, tatkala tiba waktunya menjadi kepala keluarga, sadar atau tidak mereka pun mengcopy paste kelakuan ayahnya. Perkara pun timbul sebab anak-anaknya sudah produk zaman merdeka dan telah lebih jauh rantaunya.  

Di ‘Ngeri-ngeri Sedap’ kelindan masalah  berpuncak seiring dengan mendekatnya pesta ‘sulang-sulang pahompu’. Mama Domu [Tika Panggabean] yang sekian lama mengalah pada suami akhirnya menunjukkan sikap dan kualitas diri di saat situasi kian genting. Sebagaimana ghalibnya ibu orang Batak,  ia menjadi soko guru yang tangguh.  Dialah yang jadi penentu.

Tanpa dinyana Pak Domu, sandiwara yang dikarangnya berubah menjadi realitas. ‘Gabe hapitma dabal onom’ [jadi kejepitlah balak enam—istilah di dunia penyuka domino].  Ngeri-ngeri sedap, jadinya.

Pelukisan Mama Domu (Tika Panggabean) dan Ompung Domu (Rita Matu Mona) tak kurang menariknya.   Sebagaimana kaum ibu Batak  umumnya, deraan hidup telah mematangkan mereka. Buah manisnya adalah wisdom (kebijaksanaan).  Berkat kekayaan batin dan pikiran itu  keturunanannya yang sudah menjadi orangtua pun akan menjadi anak manis penurut di hadapan mereka.

Jelas, 'Ngeri-ngeri Sedap' adalah otokritik dari kaum muda Batak yang disampaikan dengan elegan dan jenaka. Aku yakin bahwa tatkala ibu-ibu dan bapak-bapak Batak terkekeh atau terbahak  saat menyimak, sebagian mereka sebenarnya sedang menertawakan diri sendiri atau orang-orang dekat.  

FAJAR HARAPAN

Sinematografi (ilmu menangkap dan mengolah gambar) merupakan unsur maha penting dalam perfilman.  Gambar-gambar dalam ‘Ngeri-ngeri Sedap’ terbilang kuat, terlebih kalau menggunakan ukuran dalam negeri. Kalau saja teknik pencahayaannya ditingkatkan,  citraan ini akan lebih dahsyat lagi.

Syutingnya memang berlangsung di kawasan yang eksotik betul meski telah puluhan tahun diperkosa Indo Rayon (Toba Pulp Lestari), Aqua Farm (Regal Springs Indonesia), dan perusak lingkungan lainnya: alam kaldera Toba. Maka, shots-nya kemungkinan besar akan apik apalagi kalau kamera dan operatornya optima.

Pak Domu sekeluarga misalnya piknik di Holbung.  Bersebelahan dengan Sibeabea (keduanya di Kecamatan Harianboho) 4 bukit berderet ini merupakan salah satu spot terbaik di kitaran Danau Toba. Drone dipakai juga untuk mengabadikan lanskap sehingga tangkapannya lebih dramatik. 

Lokasi cerita berpusat di rumah keluarga bersahaja di bibir danau. Lalu, menjelang akhir kisah menyebar ke beberapa titik termasuk ke kediaman ibu mertua Pak Domu (rumah lama martangga simin [bertangga semen] yang bersebelahan dengan gereja bercat kuning) serta beberapa tempat di Pulau Jawa.

Simbolisasi lewat gambar dimainkan dengan baik. Foto-foto di dinding (anak yang sedang diwisuda; sesuatu yang khas  di ruang tamu keluarga Batak) dan repro lukisan perjamuan terakhir disorot di saat kegalauan pasangan pemilik rumah sedang memuncak. Sayang, pencahayaan di kediaman ini tidak ditata sedemikian rupa untuk menguatkan atmosfir.

Sejumlah scene yang menggarisbawahi kekhasan alam Batak menjadi kekuatan penting karya ini. Adegan di Onan Balige, termasuk. Tapi yang paling penting adalah prosesi pesta pasahat sulang-sulang ni pahompu itu sendiri.  

Musik juga merupakan elemen penting dari film. Seperti gambar, fungsinya pembangun suasana. Senandung Pak Domu bersama dongan sapartinaonan, dongan sapanghilalaan [kawan sepenanggungan, kawan seperasaan] di pakter tuak  merupakan narasi bersyair-bermusik. Jadi, elemen penting dari jalan cerita itu sendiri.

Musik latar yang muncul di beberapa bagian juga demikian. Termasuk  gondang sabangunan [seperangkat lengkap gendang] di saat pesta; nada sarune [serunai] dan taganing [gendang]  terkadang magis menghipnotis.

Penata musik kawakan Vicky Sianipar dan kawan-kawannya berhasil menyetubuhkan musik dan olah vokal sehingga menjadi bagian utuh dari perkisahan.

Lantas, soal keaslian cerita. Setelah diputar di bioskop, muncul  kritik bahwa  ini tiruan film Korea (Selatan). Tepatnya, bagian: Pak Domu-Mak Domu yang pura-pura akan cerai agar anak-anaknya mau mudik. Entahlah kalau tudingan ini berdasar; aku sendiri belum menyaksikan karya dari negeri gingseng dimaksud. Kalaupun tuduhan itu berasalan kuat,  di mataku Ngeri-ngeri Sedap tetap suguhan istimewa.

Perlu diingat bahwa yang namanya plot tak kurang dari 1.003 macam jenisnya. Sejak zaman Euripides, Aiskhilos, dan Sofokles—penulis drama tragedi termain di era Athena klasik (322 SM-508)—hingga sekarang itu-itu saja yang diutak-atik. Yang penting, bagaimana ia dikembangkan sedemikian oleh kaum kreatif sehingga memunculkan suguhan berasa lain. Toh, tak ada yang asli-murni dalam hidup ini; semua hasil evolusi belaka.

Terlepas dari puspa kelemahannya, bagaimanapun Ngeri-ngeri Sedap telah membuka perspektif bahwa jagat Batak merupakan tambang ide cerita yang lapisannya sangat kaya dan menjanjikan untuk diekplorasi. Sineas belia Bene Dion Rajagugguk dan timnya telah membuktikannya.

Batak memang dinamis dan kaya warna sehingga menjadi salah satu mosaik eksotik dari negeri bernama Indonesia. Wajarlah kalau ia sudah berkali-kali diangkat ke layar lebar. Dalam sedekadean terakhir saja sudah ada ‘Mursala’ (2013), ‘Toba Dreams’ (2015), ‘Lamaran’ (2015), ‘Horas Amang: Tiga Bulan untuk Selamanya’ (2019), dan ‘Pariban: Idola Dari Tanah Jawa’ (2019). Sekarang ditambah lagi dengan ‘Ngeri-ngeri Sedap’.

Dunia film Indonesia sendiri tak asing dengan insan film dari tanah Batak, baik sineas maupun aktor. Bachtiar Siagian (?), Matnoor Tindaon, Wahyu Sihombing, Edward Pesta Sirait, dan yang lain,  misalnya,  tercatat dalam daftar lama sutradara nasional. Sedangkan Maruli Sitompul, Masito Sitorus, dan para pelakon kawakan lainnya masuk di daftar bintang-film besar  jadul. Setelah mereka lisnya telah jauh lebih memanjang.  Nama Bene Dion Rajagukguk dan yang lain sudah ikut meramaikannya.

Ya, semoga  ‘Ngeri-ngeri Sedap’ merupakan fajar harapan kebangkitan film beratmosfir Batak!  Demikian harapanku.