Sajian Khusus

Buku perdana Chairil yang terbit tahun 1949 (foto P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Ini Hari Chairil Anwar Genap 100 Tahun!

Hingga detik ini pun Chairil tidak menjadi wacana yang menggelinding laksana bola salju. Di Facebook juga sepi yang mendekap [Chairil berkata di puisi Sia-sia:.. “mampus kau dikoyak-koyak sepi”]. Tentu ada perayaan sekarang di beberapa kota namun itu hanya melibatkan komunitas sastra yang jumlahnya tak akan besar.

Terkini

Ini Hari Chairil Anwar Genap 100 Tahun!

Buku perdana Chairil yang terbit tahun 1949 (foto P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Hingga detik ini pun Chairil tidak menjadi wacana yang menggelinding laksana bola salju. Di Facebook juga sepi yang mendekap [Chairil berkata di puisi Sia-sia:.. “mampus kau dikoyak-koyak sepi”]. Tentu ada perayaan sekarang di beberapa kota namun itu hanya melibatkan komunitas sastra yang jumlahnya tak akan besar.

Chairil Anwar, Magnit yang Masih Saja Luar Biasa

Kritikus H.B. Jassin menjuluki dia pelopor Angkatan’ 45 (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Mati muda. Begitupun,  Chairil sangat fenomenal. HB Jassin menyebut dia sebagai pelopor Angkatan 45. Perintis jalan, pembentuk aliran baru, sekaligus yang paling berpengaruh di generasinya. Tak berlebihan pujian itu, menurutku.

Bung, Ayo Bung Merayakan Seabad Si Binatang Jalang

Potret yang ikonik (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Orangnya boleh saja mati tapi karyanya tidak. Itu yang terjadi pada Chairil Anwar. Sampai sekarang kedudukannya sebagai penyair terakbar Indonesia belum tergantikan, sebagaimana sastrawan Angkatan ’45 lainnya, Pramoedya Ananta Toer, di lapangan prosa. Karya mereka memang telah mengabadi.

Dengan Jenaka Memotret Jagat Kekinian Manusia Batak Toba

Prosesi adat Batak (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Penggambaran Pak Domu (Arswendy Beningswara Nasution) sebagai prototipe ayah-kolot orang Batak Toba apik dan menarik. Dia ditampilkan sebagai sosok yang selalu menjadikan isi pikirannya cermin nilai bagi anak-anaknya.

Sedapnya Menikmati `Ngeri-Ngeri Sedap`

Film Ngeri-ngeri Sedap besutan Bene Dion Rajagukguk

Film ini ini dibuka dengan adegan para lelaki marmitu  [minum tuak] sembari marlogu  [berdendang]. Dilanjutkan dengan baku tanya kabar anak. Sebuah jalan pintas yang pas untuk langsung masuk ke jantung jagat Batak [baca: Batak Toba] dan persoalan utama. Kiat yang cerdas, tentu.

Membangun Ekosistem untuk Memunculkan Lapisan Pemikir Kebudayaan Batak

Buku Karya Penulis Batak (Foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Khazanah budaya (benda dan tak benda) Batak yang memang kaya—kitab Batak Art and Culture yang ditulis dokter Jamaluddin S. Hasibuan  serta  Batak Sculpture karya Achim Sibet—Bruce W. Carpenter menjadi bukti keeksotikan dan keragaman budaya benda ini—sedari dulu juga menjadi kajian orang Batak yang sedang menjalani pendidikan terutama di jenjang  pascasarjana.

Alasan Mengapa Pusuk Buhit Begitu Penting Bagi Orang Batak Beradab

Parsantian Pusuk Buhit (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com)

Begitupun, Pusuk Buhit maha penting bagi orang Batak terutama dari angkatan lama. Serupa Olympus yang merupakan gunung mitologis Yunani, dia dianggap: sakral dan kramat.

Warga Ajibata-Tigaraja-Parapat Mesti Bergerak Sebelum Segalanya Terlambat

Kota wisata Parapat yang terus berbenah (foto: P Hasudungan Sirait/Kalderakita.com

Ajibata sekarang lebih manggalsak [menggelepar] lagi. Pemerintah pusat, lewat kementerian Pekerjaaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), telah menghadirkan pelabuhan feri baru di sana. Letaknya di pelabuhan lama yang bersebelahan dengan pelabuhan swasta milik keluarga Tokke Pinggir.

Tak Berduit Meski Pemuka di Asrama Universitas Indonesia

Memberi ulos kepada Megawati Soekarnoputri (foto: Koleksi Keluarga Sabam)

Semula, ungkap Djumontang, dirinya mengira Sabam punya uang untuk membiayai dirinya di Jakarta. Ternyata dia keliru.

1234 >